Salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi mahkluk hidup untuk dimiliki adalah lingkungan. Dengan adanya lingkungan sebagai tanda adanya kehidupan, dengan lingkungan yang baik, maka kehidupan pun akan menjadi baik.
Manusia pada umumnya bergantung pada lingkungan yang dapat menunjang bagi kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang bersih dan sehat dapat meningkatkan aktivitas kehidupan manusia sehingga mampu menciptakan kualitas kehidupan yang sangat baik pula.
Untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, maka memelihara lingkungan adalah satu satunya cara. Akan tetapi manusia melakukan kegiatan buruk yang mengakibatkan rusaknya lingkungan sehingga terjadi kepincangan dan ketidakseimbangan dalam sistem kerja alam.
Permasaiahan lingkungan hidup bukanlah permasalahan baru, permasalahan itu sudah ada sejak bumi diciptakan. Pada mulanya permasalahan lingkungan hidup lebih banyak disebabkan oleh factor lingkungan itu sendiri dan bencana alam. Namun, ketika manusia muncul sebagai suatu komunitas dalam alam raya, maka manusialah yang memegang dominasi kerusakan lingkungan hidup.
Banyak diantaranya yang menebang hutan secara membabi buta tanpa melakukan penanaman Kembali sebagai ganti pohon yang telah ditebang berakibat buruk terjadinya erosi dan penggurunan; eksplorasi kekayaan laut seperti ikan dengan cara-cara yang ceroboh telah memusnahkan beberapa spesies di laut; penggalian pasir secara berlebih-lebihan telah menimbulkan kerusakan alam yang cukup parah; polusi udara di daerah perkotaan; asap dan kabut; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar; perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan. Akibat dari perbuatan yang tidak terkontrol tersebut membuat keseimbangan ekosistem yang ada di bumi ini menjadi terganggu, dan akibatnya banyak terjadi bencana seperti kebanjiran, kekeringan, banyak hewan yang terancam punah, dan hama tanaman yang merajalela.
Fakta-fakta tersebut sejalan dengan apa yang telah difirmankan Allah dalam al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 41 yang menyatakan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Ayat tersebut menielaskan bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi, baik di daratan maupun di lautan karena tangan-tangan manusia itu sendiri. Padahal diciptakannya manusia itu bukan untuk mengadakan kerusakan-kerusakan, melainkan agar menjadi khalifah di bumi dan unruk berbakti kepada Allah.
Agama mengajarkan setiap umat untuk mengetahui dan menyadari arti penting menjaga lingkungan sehari – hari. Di dalam agama mengajarkan untuk selalu peduli terhadap lingkungan, agama juga mengajarkan bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan setiap kerusakan alam, lingkungan sekitar akan memberikan dampak buruk bagi setiap manusia.
Nabi Muhammad memberikan beberapa rambu dan arahan umum terkait dengan pelestarian lingkungan:
Pertama; melarang melakukan pencemaran lingkungan. Nabi sangat tegas terkait dengan hal ini. Dalam satu hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majjah, beliau melarang keras seseorang buang air besar di sungai-sungai yang mengalir, di jalan yang dilalui orang, dan tempat berteduh. Ketiga perbuatan tersebut merupakan hal yang dilaknat. Di hadits lain, Nabi juga melarang seseorang untuk buang air besar di air yang tidak mengalir karena itu akan merusak air tersebut.
Kedua; menghemat air. Suatu ketika, Nabi Muhammad menegur sahabatnya, Sa’ad, karena berlebih-lebihan menggunakan air ketika berwudhu—meskipun pada saat itu air tersedia melimpah. Hal itu membuat Sa’ad bingung dan bertanya kepada Nabi perihal yang dilakukannya. “Apakah di dalam wudhu ada berlebih-lebihan?” tanya Sa’ad. “Ya, walau pun engkau sedang berada berada di sungai yang mengalir,” jawab Nabi. Melalui hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ini, Nabi menasihati sahabatnya (dan umat Islam) agar hemat dalam menggunakan air. Karena, air merupakan salah satu kekayaan alam yang paling penting dalam kehidupan manusia. Selain air, penggunaan listrik, minyak, dan energi lainnya juga harus dihemat, tidak berlebih-lebihan.
Ketiga; menanam tumbuhan. Dalam upaya menjaga lingkungan, Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya untuk menanam tumbuh-tumbuhan di lahan-lahan yang sekiranya kosong. Kata Nabi, seseorang yang menanam pohon akan mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah. Ia akan mendapatkan pahalanya sepanjang tanaman tersebut memberikan manfaat atau dimanfaatkan orang yang hidup di sekitarnya.
Keempat; menghidupkan tanah mati. Nabi menyerukan kepada para sahabatnya untuk menghidupkan tanah-tanah yang tidak dikelola. Beliau tidak membiarkan ada lahan sejengkal pun di wilayah kekuasaan umat Islam yang mati atau tidak dikelola. Mengapa? Karena siapapun yang memakan hasilnya itu –baik manusia atau pun hewan- maka yang menaman atau menabur akan mendapatkan pahala sedekah. “Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Dan apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekat,” kata Nabi.
Kelima, menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Nabi Muhammad bersabda, suatu ketika Allah memperlihatkan kepadanya amal baik dan amal buruk dari umatnya. Di antara amal baik umatnya yang diperlihatkan kepada Nabi adalah menyingkirkan gangguan atau bahaya dari jalan. Sementara amal buruk umatnya adalah meludah di masjid dan tidak membersihkannya. Di samping itu, Nabi Muhammad juga menekankan kepada umatnya agar menjaga kebersihan karena Allah menyukai kebersihan. Di hadits lain, Nabi mengtakan bahwa Allah itu Maha indah yang mencintai keindahan. “Maka bersihkanlah halaman kalian,” kata Nabi.
Demikian cara Nabi Muhammad menjaga dan melestarikan lingkungan. Memang, persoalan lingkungan yang ada pada zaman Nabi Muhammad tidak lah se-kompleks seperti saat ini. Namun demikian, secara garis besar Nabi Muhammad telah memberikan rambu-rambu atau arahan tentang bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan.
Penulis :
Nama : Khairunnisa
Asal Kampus : IAIN Langsa
NIm : 1022019002
Fakultas/Prodi :Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/ pendidikan Bahasa arab
Semester/Unit :7/1
Nama : Muhammad Syahrul Sya’ya
Asal Kampus : IAIN Langsa
NIm : 3032019030
Fakultas/Prodi : Ushuluddin Adab dan Dakwah / Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Nama : Askari ismail
Asal Kampus : IAIN Langsa
NIm : 3032019035
Fakultas/Prodi : Ushuluddin Adab dan Dakwah / ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
