Desa Adat dan Budaya di Pinggir Danau Laut Tawar

Takengon – Embun ringan turun secara bertahap mengelilingi permukaan Danau Laut Tawar pada pagi hari itu. Dari jarak pandang yang dekat bangunan tradisional berbahan kayu yang tampak begitu bagus dan di kelilingi bentangan sawah yang indah. Di lokasi inilah, tepatnya di kampung Toweren Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah, nilai tradisional dan lingkungan alam bersatu padu dalam melestarikan kehidupan masyarakat Gayo.

Bagi masyarakat Toweren, hidup bukan sekedar mencari nilai rupiah saja, tetapi juga menjaga nilai adat warisan dan budaya. Contohnya warisan adat praktik pertanian tradisional masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. seni tari guel merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Toweren.

Kemudian adat (edet) warga Toweren juga masih terbilang kental dikarenakan masih adanya penerapan (bujang berama beru berine) bermakna persaudaraan di sana masih sangat kuat.

“Anak muda setempat masih menjaga kehormatan dan kepatuhan terhadap orang yang lebih tua sekalipun itu bukan orang tua kandungnya, contohnya tempat duduk seorang ayah itu tidak boleh diduduki oleh siapapun walaupun yang datang ke rumah itu presiden sekali pun,” ungkap Khalidin.

Kampung Toweren juga terkenal kuat dengan kesatuan mereka dari sudut pandang kekerabatan meskipun sebagian masyarakatnya sudah tidak tinggal lagi di kampung itu.

“(Sawah seni ike urang kampung toweren si nge pernah taring iwan kampungni, walaupe we nge munetap I kampung len contohe tareng I kabupaten bener meriah, hubungen kami tetap terjege ataupe silaturahim kamipe jeroh ) sampai sekarang warga Toweren yang sudah pernah tinggal walaupun sudah pindah, seperti menetap di Kabupaten Bener Meriah hubungan kami masih tetap terjaga dengan silaturahim yang tetap baik,” lanjutnya.

Masyarakat kampung juga menjalankan adat sesuai dengan syari’at agama Islam yang dimana (edetken peger ni agama) adat sebagai pagarnya agama ataupun sebagai benteng aturan yang ada dalam agama Islam. Karena jikalau tidak ada adat, aturan agama juga akan mulai renggang.

Semakin berkembangnya zaman, adat di Kampung Toweren sudah mulai tidak kental lagi dikarenakan sudah terkikis oleh globalisasi modern ataupun teknologi modernm tetapi dibandingkan dengan adat desa lain atau daerah lain, Kampung Toweren masih bertahan dengan julukan kampung adat.

“Kalau dibandingkan dari zaman ke zaman, apalagi sekarang, adat yang ada di Kampung Toweren ini sudah mulai berkurang berbeda dengan sebelum datangnya teknologi. Adat dan budaya yang ada di Toweren sangatlah begitu kental, tetapi apabila dibandingkan dengan adat kampung lain yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Toweren masih bertahan dengan adat yang saat ini masih dijuluki sebagai desa adat,” tambah Zaini Torga.

Dengan mulai pudarnya nilai adat di desa tersebut, perlu adanya upaya dari pemerintah dalam menjaga kelestarian adat dan budaya, karena jika adat dan budaya sudah sirna maka kita hanya bisa mengingatnya saja.

“Dalam menjaga warisan adat dan budaya di Toweren ini kami berharap perlu adanya keterlibatan Pemerintah Daerah agar mendukung kembalinya aturan adat yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Karena pada dasarnya adat di desa ini sangat singkron dengan Islam meski banyak yang perlu disempurnakan,” tambanya. [].

Reporter: Nafis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *