Sejarah Masjid Quba Bebesen Aceh Tengah

Takengon – Terletak di Desa Bebesen, Kecamatan Bebesen Aceh Tengah, berdiri sebuah bangunan kokoh di atas tanah 1 hektar, yaitu masjid Quba Bebesen. Masjid ini dibangun sekitar tahun1800 Masehi oleh Habib Syarif, ulama dari Mekkah, Arab Saudi.

Masjid Bebesen dibangun sebelum Belanda masuk ke Gayo(1903) dan terdapat relasi dengan Ketol. Sebagian bahanpembangunan masjid yang berbahan papan, berbentukpanggung, dan beratap hijuk saat itu dibawa dari Ketol.

Mengingat penambahan jamaah, yang tidak hanya berasal dariBebesen, tetapi juga dari luar Bebesen, ditambah masjid jugamasih jarang di Aceh Tengah saat itu, karenanya dilakukanpengembangan.

“Masjid pengembangan ini yang dibakar oknum anggota PKI, tanggal 21 Juli 1965. Bangunan masjid yang dibakar ini sepertiyang dilukis Pak Hasan Keding Karang. Masih bangunan papan, berbentuk panggung, berfondasi batu, bangunannya lebih besar, ada tiga menara kecil di atasnya.”

“Bagian depannya seperti rumah bubung lime (red. Gayo).Setelah dibakar oknum PKI, dipakai Mersah Uken untuk masjid darurat sebagai tempat beribadah sementara. Lalu, dibentukpanitia pembangunan masjid yang masa kepengurusannya tigatahun, sampai sekarang. Nama Masjid Quba diusulkan TgkAbdurrahman, salah satu ulama kharismatik Aceh Tengah saatitu, asal Kampung Bebesen. Nama Quba filosofinya berangkatdari hijrah Nabi Muhammad SAW, dari Mekkah ke Madinah,” sebut Yusradi.

Sementara itu, Tgk. T. Said Lidansyah, mengungkapkan, pembangunan Masjid Bebesen dirintis Habib Syarif. HabibSyarif adalah orang Arab, berasal dari Mekkah, bukan berasaldari Yaman atau Hadramaut.

“Habib Syarif, istri, dua anaknya—Habib Muhammad Jalungdan Habib Yusuf—dan seorang pengikut, penghafal Quran, SyehMahmud, hijrah ke Aceh, tepatnya, di Ie Leubeu, Pidie. Setelahmenguasai bahasa Aceh, dari Pidie, Habib Syarif danrombongan ke Ulim, Paya Tui, Pidie Jaya. Kemudian, meneruskan perjalanannya sampai ke Peudada, lalu mengikutialiran sungai Peudada, sampai ke Pantan Lah,” kata Lidansyah.“Bagian depannya seperti rumah bubung lime (red. Gayo).Setelah dibakar oknum PKI, dipakai Mersah Uken untuk masjid darurat sebagai tempat beribadah sementara. Lalu, dibentukpanitia pembangunan masjid yang masa kepengurusannya tigatahun, sampai sekarang. Nama Masjid Quba diusulkan TgkAbdurrahman, salah satu ulama kharismatik Aceh Tengah saatitu, asal Kampung Bebesen. Nama Quba filosofinya berangkatdari hijrah Nabi Muhammad SAW, dari Mekkah ke Madinah,” sebut Yusradi.

Sementara itu, Tgk. T. Said Lidansyah, mengungkapkan, pembangunan Masjid Bebesen dirintis Habib Syarif. HabibSyarif adalah orang Arab, berasal dari Mekkah, bukan berasaldari Yaman atau Hadramaut.
“Habib Syarif, istri, dua anaknya—Habib Muhammad Jalungdan Habib Yusuf—dan seorang pengikut, penghafal Quran, SyehMahmud, hijrah ke Aceh, tepatnya, di Ie Leubeu, Pidie. Setelahmenguasai bahasa Aceh, dari Pidie, Habib Syarif danrombongan ke Ulim, Paya Tui, Pidie Jaya. Kemudian, meneruskan perjalanannya sampai ke Peudada, lalu mengikutialiran sungai Peudada, sampai ke Pantan Lah,” kata Lidansyah.Anak Habib Syarif, Habib Muhammad Jalung mempunyaidelapan anak, tertua Syarifah Nurullah, Habib Murasyaf, HabibHarbi, Habib Krueng, Habib Ahmad (Habib Item, makamnya di belakang Masjid Quba Bebesen), Habib Husin, Syarifah Obit, dan Syarifah Hadijah yang bersuamikan Habib Abdillah.

“Habib Abdillah ini yang menurut Syarifah Luluk (cucunyaHabib Muhammad Habib Jalung) yang merintis pembangunanmasjid tua Asir-Asir. Habib Syarif meninggal sekitar tahun1850, sementara Habib Muhammad Jalung meninggal tahun1887. Saya sependapat dengan Yusradi, Masjid Bebesendibangun sekitar akhir 1700 atau awal 1800, merujuk tahunmeninggalnya Habib Syarif,” tutur Lidansyah.

Reporter: Milawati 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *