Pengetahuan dan Hal yang Tak Selalu Bisa Dijelaskan

Selama ini manusia sering memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang harus jelas, pasti, dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Apa yang bisa diukur dianggap benar, sedangkan hal-hal yang sulit dijelaskan sering dipandang sekadar dugaan atau perasaan semata. Cara berpikir seperti ini berkembang kuat sejak lahirnya modernitas dan kemajuan sains.

Namun, pengalaman manusia menunjukkan bahwa tidak semua pengetahuan hadir melalui jalan yang sepenuhnya logis dan terukur. Ada kalanya seseorang tiba-tiba menemukan jawaban setelah lama memikirkan suatu persoalan. Ada pula momen ketika intuisi justru membawa manusia pada keputusan yang benar, meskipun sebelumnya sulit dijelaskan secara rasional.

Fenomena semacam ini memunculkan pertanyaan filosofis yang cukup besar: apakah semua bentuk pengetahuan memang harus selalu dapat dijelaskan secara ilmiah?

Dalam sejarah filsafat ilmu, pandangan tentang pengetahuan yang hanya bertumpu pada fakta empiris banyak dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte. Ia beranggapan bahwa ilmu pengetahuan harus dibangun di atas sesuatu yang nyata, dapat diamati, dan dapat dibuktikan. Pemikiran ini kemudian mendorong berkembangnya cara pandang modern yang sangat mengutamakan rasionalitas dan pengukuran ilmiah.

Di sisi lain, kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesederhana rumus-rumus ilmiah. Banyak pengalaman batin, intuisi, kreativitas, bahkan inspirasi yang sulit dijelaskan secara pasti, tetapi nyata dirasakan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk melihat bagaimana masyarakat memahami persoalan ini, penulis melakukan wawancara terhadap beberapa narasumber dari latar belakang yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar narasumber percaya bahwa tidak semua pengetahuan dapat dijelaskan hanya melalui logika dan pendekatan ilmiah semata.

Khairunnisa Simahara, mahasiswi Universitas Abulyatama, berpendapat bahwa manusia sering memahami sesuatu melalui pengalaman dan perasaan, bukan hanya melalui teori atau data ilmiah. Menurutnya, ada pengalaman hidup yang sulit diterangkan secara rasional, tetapi tetap nyata dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan serupa disampaikan Lisma Ramadana, mahasiswi Universitas Abulyatama. Ia mengaku pernah memahami sesuatu tanpa mampu menjelaskan alasannya secara pasti. Menurutnya, terkadang seseorang merasa yakin terhadap suatu hal meskipun belum memiliki penjelasan logis yang lengkap. Pengalaman seperti itu, kata dia, merupakan bagian dari pengalaman batin manusia.

Sementara itu, Amri, imam masjid di Aceh Tengah, menilai bahwa intuisi dapat dianggap sebagai bagian dari pengetahuan. Menurutnya, intuisi muncul dari pengalaman, ingatan, dan proses berpikir yang tersimpan dalam diri seseorang, meskipun sering kali bekerja secara tidak sadar.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep tacit knowledge yang diperkenalkan filsuf Michael Polanyi. Ia menyatakan bahwa manusia sering mengetahui sesuatu lebih banyak daripada yang mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Ada bentuk pengetahuan yang hadir melalui pengalaman, kepekaan, dan intuisi, tetapi sulit diterangkan secara rinci melalui bahasa atau rumus ilmiah.

Fenomena itu sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang ibu, misalnya, sering mampu memahami keadaan anaknya hanya dari perubahan kecil pada ekspresi wajah atau nada bicara. Begitu pula seorang seniman yang dapat merasakan keindahan tanpa harus menjelaskan seluruh proses berpikirnya secara rinci.

Dalam wawancara yang dilakukan penulis, beberapa narasumber juga mengaku pernah mengalami situasi ketika firasat atau perasaan tertentu ternyata benar. Zulkifli, seorang guru SMA di Aceh Tengah, mengatakan bahwa ia pernah merasa yakin terhadap sesuatu tanpa alasan yang sepenuhnya jelas, dan pada akhirnya keyakinan tersebut terbukti benar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa intuisi tetap tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.

Adha Ababil, alumni Universitas Syiah Kuala, mengaku pernah menemukan solusi terhadap suatu persoalan setelah berhenti terlalu memikirkannya dan mencoba menenangkan diri. Menurutnya, ketika pikiran lebih tenang, seseorang justru lebih mudah melihat persoalan secara jernih.

Hal tersebut menunjukkan bahwa proses berpikir manusia bekerja jauh lebih kompleks daripada yang sering dibayangkan. Tidak semua jawaban lahir dari proses logika yang cepat dan terukur. Dalam banyak situasi, manusia juga membutuhkan refleksi, pengalaman batin, dan ketenangan untuk memahami sesuatu secara lebih utuh.

Meski demikian, bukan berarti logika dan ilmu pengetahuan menjadi tidak penting. Rasionalitas tetap dibutuhkan untuk menguji, menyaring, dan memastikan bahwa suatu gagasan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Intuisi tanpa logika dapat menyesatkan, tetapi logika tanpa kepekaan batin juga dapat membuat manusia kehilangan sisi kemanusiaannya.

Zulkifli menilai bahwa logika dan pengalaman batin seharusnya tidak dipertentangkan. Menurutnya, manusia membutuhkan logika untuk menilai sesuatu secara objektif, tetapi juga membutuhkan pengalaman batin agar tidak kehilangan sisi kemanusiaannya dalam memahami kehidupan.

Sementara itu, Amri berpendapat bahwa ketenangan batin sangat memengaruhi cara seseorang memahami persoalan. Ketika pikiran tenang, seseorang biasanya lebih mudah melihat masalah secara jernih dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Pandangan tersebut juga memiliki kedekatan dengan nilai spiritual dalam agama. Dalam Islam, dikenal konsep ilham, yaitu inspirasi atau petunjuk yang datang ketika hati berada dalam keadaan tenang. Karena itu, pengetahuan mungkin tidak selalu lahir hanya dari sesuatu yang dapat diukur secara pasti.

Di tengah perkembangan teknologi dan sains yang semakin maju, manusia memang membutuhkan cara berpikir ilmiah. Namun, manusia juga perlu menyadari bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan sepenuhnya oleh angka, data, dan rumus-rumus pasti. Ada ruang dalam diri manusia yang terkadang bekerja melampaui apa yang bisa diterangkan oleh logika semata.

Mungkin karena itulah, pengetahuan tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya terlihat. Sebagiannya tumbuh dari pengalaman, intuisi, refleksi, dan hal-hal yang hingga hari ini masih sulit dijelaskan secara sempurna oleh manusia sendiri.(Al Misbahuddin)

*)Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *