Penyusun : Dian Nazira
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Sejak diterapkannya Kurikulum Merdeka pada tahun 2023, SMAN 15 Takengon Negeri Antara mengalami perubahan yang cukup besar dalam sistem pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan di lingkungan sekolah, penerapan kurikulum ini membawa suasana belajar yang lebih aktif, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik. Kurikulum Merdeka tidak hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kemandirian siswa dalam proses belajar.
Dalam penerapannya, Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon Negeri Antara menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning). Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi di dalam kelas, melainkan berperan sebagai fasilitator dan pembimbing yang membantu siswa menemukan serta mengembangkan pengetahuan mereka sendiri. Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk lebih aktif dalam berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, serta bekerja sama dengan teman-temannya dalam menyelesaikan berbagai tugas pembelajaran.
Proses pembelajaran intrakurikuler di sekolah ini juga terlihat lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan kondisi nyata yang ada di lingkungan sekitar. Pembelajaran dilakukan melalui diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, serta pengerjaan proyek yang mampu melatih kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa. Dengan metode seperti ini, suasana belajar menjadi lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang dipelajari.
Salah satu bagian penting dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Program ini menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, seperti gotong royong, tanggung jawab, kemandirian, kreativitas, serta sikap toleransi. Kegiatan P5 dilaksanakan melalui berbagai program yang melibatkan kerja sama antar siswa sehingga mereka dapat belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sosial.
Selain penguatan pada kegiatan intrakurikuler, SMAN 15 Takengon Negeri Antara juga memberikan perhatian besar terhadap pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah menyediakan berbagai wadah bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka, baik di bidang organisasi, seni, olahraga, maupun keagamaan. Kegiatan ekstrakurikuler menjadi media penting dalam membentuk kemampuan nonakademik atau soft skills siswa, seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, disiplin, dan rasa tanggung jawab.
Dalam bidang Pendidikan Agama Islam (PAI), penguatan pembelajaran tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terintegrasi dengan nilai-nilai Kurikulum Merdeka. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah kegiatan tahsin dan tahfiz Al-Qur’an yang rutin dilakukan setiap hari Senin dan Sabtu. Program tahsin bertujuan memperbaiki bacaan Al-Qur’an siswa sesuai dengan kaidah tajwid yang benar, sedangkan program tahfiz difokuskan pada pembinaan hafalan Al-Qur’an secara bertahap dan berkelanjutan.
Kegiatan tahsin dan tahfiz mendapatkan respons yang sangat positif dari siswa. Program ini tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga membentuk karakter religius, kedisiplinan, serta tanggung jawab siswa dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Dalam pelaksanaannya, guru Pendidikan Agama Islam bekerja sama dengan pembina keagamaan dan beberapa siswa yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik untuk membimbing teman-teman mereka. Kolaborasi tersebut menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, aktif, dan saling mendukung antarsiswa.
Selain itu, sekolah juga memiliki program kelas dakwah yang menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan public speaking Islami. Dalam kelas dakwah ini, siswa dilatih untuk menyampaikan ceramah, kultum, maupun pidato keagamaan dengan baik dan percaya diri. Program ini juga membantu siswa meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian berbicara di depan umum, serta pemahaman terhadap nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Kelas dakwah menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi antara kegiatan ekstrakurikuler dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon Negeri Antara tidak terlepas dari adanya kerja sama dan kolaborasi yang baik antara seluruh warga sekolah. Guru-guru secara aktif bekerja sama dalam menyusun perangkat pembelajaran, berbagi pengalaman mengajar, serta melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung. Selain itu, sekolah juga mulai melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung proses pendidikan agar tercipta pembelajaran yang lebih menyeluruh dan bermakna.
Meskipun demikian, penerapan Kurikulum Merdeka masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satu kendala utama adalah kesiapan guru dalam memahami dan menerapkan konsep Kurikulum Merdeka secara maksimal. Tidak semua guru memiliki pengalaman dan pelatihan yang memadai, sehingga masih terdapat perbedaan dalam kualitas pelaksanaan pembelajaran di setiap kelas. Hal ini menuntut guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya agar mampu mengikuti perkembangan sistem pendidikan yang baru.
Dari sisi siswa, tantangan juga terlihat dalam proses adaptasi terhadap pola pembelajaran yang lebih aktif dan mandiri. Sebagian siswa yang sebelumnya terbiasa dengan metode pembelajaran konvensional mengalami kesulitan ketika harus lebih banyak berdiskusi, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat. Selain itu, perbedaan kemampuan belajar antar siswa juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam menerapkan pembelajaran diferensiasi sesuai kebutuhan peserta didik.
Di balik berbagai tantangan tersebut, penerapan Kurikulum Merdeka memberikan banyak dampak positif bagi perkembangan siswa. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, serta memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik. Hubungan antara guru dan siswa juga menjadi lebih dekat karena proses pembelajaran berlangsung secara terbuka dan komunikatif. Suasana belajar yang lebih fleksibel dan menyenangkan membuat siswa lebih termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Namun, terdapat pula beberapa dampak negatif yang perlu diperhatikan. Fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka dapat menyebabkan ketidakteraturan dalam proses pembelajaran apabila tidak dikelola dengan baik. Selain itu, guru juga menghadapi beban kerja yang lebih besar karena harus merancang pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Jika tidak didukung dengan fasilitas dan kerja sama yang baik, kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan bagi tenaga pendidik.
Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di SMAN 15 Takengon Negeri Antara telah berjalan dengan cukup baik dan memberikan perkembangan yang positif sejak mulai diterapkan pada tahun 2023 hingga saat ini. Berbagai program pembelajaran, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, menunjukkan adanya perubahan menuju sistem pendidikan yang lebih aktif, kreatif, dan berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Meskipun masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya, semangat kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah menjadi faktor utama dalam mendukung keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka demi terciptanya pendidikan yang lebih berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman.
