Sebuah impian akan selalu menghiasi setiap pikiran manusia, mimpi yang nyata dan terang bisa tergapai, pasti membutuhkan Usaha yang ekstra. Bukan mimpi hanya dalam tidur tidak mimpi hanya membahagiakan sesaat, mimpi indah bukan lagi harapan. Tapi dapat bermimpi saja sudah sebuah harapan, banyak orang menyepelekan impian dari para wanita, masih banyak yang menganggap wanita adalah makhluk nomor dua. Dan laki- lakilah yang selalu utama. nampaknya jika hal ini terjadi terus menerus, wanita akan kehilangan hak asasinya. Untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak.
Tidak hanya laki- laki yang memiliki kemampuan menjadi pemimpin, perempuan juga memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki. Dalam lintas sejarah, banyak sekali pemimpin perempuan yang telah mengambil peran. Contohnya saja seperti Siti Aisyah. Siti aisyah dahulunya adalah seorang perempuan perawi hadis yang terkemuka pada masanya. Di afrika tepatnya di kerajaan Hausa Zazzau di Nigeria ada Aminah yang menjadi komandan militer sekaligus penguasa kerajaan tersebut. Di indonesia sendiri siapa yang tidak pernah mendengar nama Laksamana Malahayati Perempuan tangguh asal Aceh yang memimpin Suatu pasukan yang di sebut Inong baleh.
Dari catatan sejarah ini, perempuan dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan tidak bisa di pandang sebelah mata dengan potensi dan kemampuan yang di miliki, perempuan mampu mengambil peran penting. Perempuan dapat muncul menjadi pemimpin jika di butuhkan, mengambil posisi strategis, yang mana keputusan yang di buat akan memengaruhi seluruh jalannya organisasi.
Berbicara tentang kepemimpinan perempuan sebenarnya tidak terbatas pada sejarah kepemimpinan politik di dalam sebuah negara ataupun kerajaan. Akan tetapi kita dapat melihat dalam sisi miniatur pemerintahan yang ada pada mahasiswa di perguruan tinggi. Sebut saja Zahra Innani, salah seorang Aktivis perempuan yang menjabat sebagai ketua BEM Fakultas.
Jika kita lihat selama masa kepengurusannya, zahra innani berhasil menjalankan tugas dan wewenang sebagai seorang ketua BEM dengan maksimal. Dari beberapa prestasi yang telah di capainya selama ia menjabat banyak memberikan kontribusi terhadap kemajuan Fakultas terutama pada Organisasi Kemahasiswaan. Jika kita bandingkan dengan masa kepengurusan BEM sebelumnya yang notabene dipimpin oleh laki-laki. Maka kepemimpinan zahra dapat dilihat memiliki pengaruh terhadap perkembangan organisasi dan lebih dominan jika dibanding pada kepemimpinan sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut kita tidak dapat memandang rendah terhadap kepemimpinan perempuan, bisa jadi mereka memiliki potensi-potensi dan inovasi dalam memimpin yang lebih unggul jika dibandingkan dengan kepemimpinan laki-laki.
Nama : Erisa Dewi
Asal Kampus : IAIN Langsa
NIm : 3012019004
Fakultas/Prodi : Ushuluddin Adab dan Dakwah / Komunikasi dan Penyiaran Islam
Semester/Unit : 7 / 1
