Dataran tinggi Takengon dikenal dengan kaya akan sumber daya alamnya. Salah satunya perkebunan apel yang terletak di Despot Linge atau lebih dengan kawasan Atu Lintang. Pemilik perkebunan ini Siswanto yang berasal dari Malang yang merantau ke Dataran Tinggi Gayo.
Masyarakat saat itu sangat berpatokan kepada tanaman kopi sebagai komunitas primadona. Pada awalnya masyarakat tidak yakin tanaman apel Siswanto dapat berkembang dengan baik di negeri berselimut kabut ini. Namun Siswanto dapat membuktikan bahwa budidaya apel mampu mengembangkan ekonomi.
Siswanto sekeluarga awalanya menjadi transmigran di Despot Linge Aceh Tengah pada tahun 1995. Namun konflik menjelang akhir 90 an terpaksa membuatnya berpindah kembali ke Malang. Pada September 2014 Siswanto kembali ke Gayo bersama keluarganya.
Saat ini kebun apel yang dimiliki Siswanto banyak diminati penduduk lokal maupun luar, bahkan sampai banyak memesan sebelum buah siap panen. Penghasilan Siswanto dari kebun apelnya dapat mencapai Rp 8 juta.
Pengunjung dapat memetik buah apel sendiri dan membawa pulang dengan membeli Rp 40.000/kg. Walaupun terbilang mahal, namun dikarenakan sensasi memetik apel sendiri menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk hanya sekedar datang dan berfoto. Banyak masyarakat yang menunggu saat panen kebun apel, bahkan mereka rela datang dari jauh hanya karena untuk melihat kebun apel.
Pengunjung sangat berantusis dengan adanya kebun apel dan pengunjung juga merasa puas dengan membeli hasi panen Siswanto.
“Harga yang sangat bersahabat dengan kantong dan rasanya juga yang sedikit asam membuat ingin memakannya serta ditambah lagi perjalanan menuju ke sana diselimuti akan keindahan pegunungan dan pepohonan di samping jalan,” ujar Eka, salah seorang penunjung.
Laporan: Rini Hayati
Penulis : Rini Hayati
