Bagaimana Bahasa Berubah di Dataran Tinggi Tanah Gayo? (Language Change)

Oleh: Sri Widya Rahma

( Mahasiswa Semester V Program Studi Tadris Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Takengon)

Perubahan bahasa atau perubahan bahasa, merupakan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti status sosial, budaya, jenis kelamin, dan jenis interaksi. Kemudian yang perlu kita ketahui perubahan bahasa yang bukan mengubah seluruh ketata bahasaan, tapi ada beberapa struktur bahasa yang berubah, yaitu pengucapan atau pelafalan, makna, dan kosa kata.

Sama seperti di Dataran Tinggi Tanoh Gayo yang penduduknya adalah suku Gayo, diamana pastinya mereka menggunakan bahasa Gayo sebagai bahasa sehari-hari. Namun, tidak dalam semua hal atau kegiatan mereka menggunakan bahasa Gayo, karena Dataran Tinggi Tanoh Gayo tepatnya di Takengon sendiri bukan hanya suku Gayo saja yang mendiami wilayah ini.

Bahasa Gayo sendiri adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Gayo di provinsi Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, dan mungkin ada juga sebagian wilayah yang menggunakan bahasa Gayo.

Nah, artikel ini akan menjawab pertanyaan kita mengenai, apakah bahasa Gayo mengalami perubahan? Lalu Bagaimana bahasa Gayo dapat berubah ?. Seiring dengan perubahan zaman, Tanoh Gayo juga mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Artinya bahasa Gayo dapat berubah, baik dari segi kata, pengucapan dan lainnya.

Dapat kita lihat disekitar kita sekarang, banyak masyarakat Gayo yang bahasanya kita dengar berbeda dengan bahasa Gayo yang dulunya. Bahasa yang digunakan para remaja sekarang sudah banyak bahasa gaul yang pertama kali menggunakan bahasa lain dan diucapkan menggunakan dialek Gayo, contohnya seperti: “santai = santuy” yang sering digunakan remaja sekarang.

Dalam bahasa gayo kata ini berubah pelafalannya “santuy = santoy” lebih seperti huruf “o” bukan “u”. Jika Berbicara dengan nenek kita dengan kata “santoy” pasti nenek kita bingung, karna pada wicara kata “santai” jika dalam bahasa gayo menjadi “santai atau selow”.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan bahasa Gayo, seperti pengaruh bahasa atau wilayah, usia, dan jenis interaksi yang dilakukan. Pertama itu pengaruh dari bahasa lain, tentunya kita semua tau di Takengon bukan hanya suku Gayo saja yang mendiaminya tapi ada berbagai suku, seperti Aceh, Jawa, Padang dan masih banyak lagi.

Sehingga bahasa kita sekarang pelafalannya berubah, contoh orang jawa yang berubah. Dengan logat bahasa Gayo atau Agak orang gayo. Logat bahasa Jawa, seperti “opo geh?” padahal seharusnya “opo toh?”, karna kata geh identik dengan bahasa Gayo. Kemudian faktor usia, usia sudah tidak bisa menentukan usia lagi, menjadi salah satu faktor perubahan bahasa. Usia mempengaruhi perubahan bahasa seperti zaman dimana semakin maju zaman semakin banyak pula perubahan bahasa.

Banyak bahasa yang berubah karena usia, baik dari segi pengucapan maupun kata. Salah satunya yaitu “Bahagia” dalam bahasa Gayo petua Gayo akan mengucapkan “Bahgie” tapi orang sekarang mengucapkan “Bahagie”. Kemudian faktor ketiga jenis interaksi. Kenapa jenis interaksi bisa mempengaruhi perubahan bahasa Gayo?

Nah banyak faktor ya yang mempengarui bahasa Gayo, namun disini hanya tiga faktor saja dimana faktor terakhir itu interaksi, interaksi yang maksudnya adalah lawan bicara kita, dimana kita bicara, jenis kegiatan yang mengharuskan kita berbicara dan lainnya.

Disini saya mengambil contoh jenis interaksi antara masyarakat kelas atas dengan masyarakat menengah. Pastinya terdapat perbedaan pengucapan bahasa antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain walaupun sama-sama menggunakan bahasa Gayo.

Berikut kosa kata yang menjadi perbandingan serta menambah pehaman kita bahwa memang ada perubahan dalam bahasa Gayo seiring dengan perkembangan zaman:

Bahasa Gayo Dulu – Bahasa Gayo Sekarang – Bahasa Indonesia

  1. Mangan – Man – Makan
  2. Jejamah – Dediang – Maen-maen
  3. Hek – Payah – Susah
  4. Remalan – Ralan / Malan – Berjalan
  5. Sangka – Nyangka – Lari
  6. Liwet – Lewat – Lewat
  7. Memejen – Mejen – Kadang-kadang
  8. Mubeda – Beda – Berbeda
  9. Mupisah – Mpisah – Berpisah
  10. Kuatas – Katas – Keatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *