Sejarah Tari Guel Suku Gayo dan Kaitannya dengan Islam

A. Sejarah Tari Guel Suku Gayo
Tari Guel Merupakan Salah Satu Tarian Yang Berasal Dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Tarian Ini Hadir Dan Berkembang Hingga Saat Ini Di Tengah-Tengah Masyarakat Suku Gayo. Tari Ini Termasuk Salah Satu Tari Tradisi Yang Tidak Hanya Dihidupi Oleh Kelompok-Kelompok Seniman Tradisi, Akan Tetapi Juga Berkembang Di Sanggar-Sanggar Seni Di Kota Takengon.

Menurut seorang tokoh adat Bapak Ibrahim Kadir, hadirnya Tari Guel Terinspirasi Dari Kisah Legenda Sengeda Dan Bener Merie. Legenda Tersebut Menceritakan Tentang Persaudaraan Dua Kakak Beradik Pada Masa Kerajaan Linge.

Dalam Kisah Tersebut, Juga Memuat Pesan-Pesan Moral Tentang Kesetian Dan Persaudaraan Yang Semestinya Diterapkan Dalam Kehidupan Keluarga Dan Bermasyarakat. Istilah “Guel” Dalam Bahasa Local (Gayo) Berarti “Membunyikan”. Istilah Tersebut Diartikan Juga Sebagai Membunyikan Sesuatu Untuk Seruan Serta Ajakan Untuk Memanggil. Menurut Legenda Yang Berkembang Di Tengah Masyarakat Gayo, Di Aceh Tengah, Tari Guel Tercipta Dari Kisah Pencarian Seekor Gajah Putih. Gajah Putih Tersebut Dijemput Ke Tengah Hutan Dan Dipanggil Dengan Cara Membunyikan benda-Banda Yang Dibawa Ke Tengah Hutan. Sebagian Masyarakat Beranggapan Bahwa, Tari Guel Merupakan ritual sekaligus Sebagai Perantara Mantra Agar Dapat Membujuk Seekor Gajah Putih Untuk Keluar Dari Tempat Persembunyiannya, Akhirnya Patuh Dan Dapat Diajak Pergi Dan Dipersembahkan Untuk Putri Raja Di Kota Raja Pada Saat Itu. Beberapa Bentuk Geraknya Mencerminkan Perilaku Gajah

Saat Ini, Tari Guel Menjadi Salah Satu Seni Tradisi Yang Cukup Populer Di Kabupaten Aceh Tengah. Tari Tersebut Selalu Disertakan Dalam Beberapa Upacara Adat, Terutama Upacara Adat Perkawinan.

B. Narasi Tari Guel Suku Gayo
1. Mimpi Sengeda:
Narasi tari Guel berawal dari mimpi Sengeda, anak Raja Linge ke-XIII, yang bertemu dengan saudara kandungnya, Bener Merie, yang telah meninggal dunia akibat pengkhianatan.

2. Gajah Putih:
Dalam mimpinya, Bener Merie menjelma menjadi gajah putih dan menunjukkan kepada Sengeda cara menjinakkan gajah tersebut untuk dipersembahkan kepada putri raja.

3. Perjuangan Mencari Gajah Putih:
Sengeda dan Bener Merie kemudian melakukan perjalanan untuk mencari gajah putih tersebut.

4. Gerakan Tari:
Gerakan-gerakan dalam tari Guel mencerminkan perjuangan Sengeda dan Bener Merie untuk menjinakkan gajah putih, dengan beberapa gerakan yang diinterpretasikan sebagai karakter gajah.

5. Simbolisme dan Filosofi:
Tari Guel tidak hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan media informasi dan simbol yang kaya akan nilai-nilai budaya Gayo, seperti kesetiaan, keberanian, dan rasa hormat terhadap alam.

6. Iringan Musik:
Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Gayo, seperti rebana, canang, dan memong, yang menciptakan suasana magis dan dramatis.

7. Kostum dan Properti:
Penari menggunakan kostum khas Gayo, seperti baju kerawang dan kain ulen-ulen, serta properti lain seperti kain sulam kerawang Gayo yang digunakan untuk mengibaskan dan menciptakan efek gerakan yang indah.

8. Upacara Adat:
Tari Guel sering ditampilkan dalam upacara adat tertentu, seperti pernikahan dan perayaan panen, sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan budaya Gayo.

C. Nilai Atau Makna Yang Terdapat Pada Tari Guel
Tari Guel Memiliki Nilai Pegangan/Pandangan Hidup Di Dalam Gerakan-Gerakan Tarian Yang Tertuang Dalam Rangkaian Tari. Bagi Masyarakat Gayo Tari Guel Ibarat “Museum Gerak Tanpa Bangunan”1 Tempat Menyimpan Sejarah Gayo, Agar Orang Tidak Mudah Melupakannya. Hingga Sekarang Masih Banyak Fakta Sejarah Gayo Tercecer Dan Disimpan Dalam Bentuk “Kekeberen”, Pusi, Dan Pantun. Hal Ini Bisa Dimakumi, Karena Keterbatasan Fasilitas Pada Masa Itu. Imaginator Menafsirkan Fakta Sejarah Tadi Ke Dalam Gerak Tari Guel. Selain Itu Imaginator Ingin Menggambarkan “Aurat” Orang Gayo Yang Tak Pantang Membunuh Saudara Sendiri, Jika Dirasa Perlu Untuk Itu. Guel Memiliki Alur Cerita Yang Menjadi Tatanan Dan Keharusan Filosofi Yang Harus Dilewati Ketika Ditampilkan Dengan Memasukkan Prinsip-Prinsip tertentu Yang Diperagakan Melalui Gerakan Anggota Tubuh Dalam Empat Babakan Yaitu, Babak Menatap, Redep/Dep, Ketibung, Dan Cicang Nangka. Dari Keempat Babakan Tersebut Memiliki Filosofi Yang Seharus Dapat Dipahami Setiap Penata Tari Yang Mencoba Menyajikan Tari Guel Agar Sesuai Dengan Aturan Dan Tatanan Yang Berlaku.

D. Kaitan Tari Guel Suku Gayo dengan Agama Islam
Tari Guel adalah tarian tradisional suku Gayo di Aceh yang berasal dari legenda pencarian gajah putih oleh Sengeda dan Bener Merie untuk dipersembahkan kepada Putri Raja. Tari ini sarat dengan simbol dan filosofi tentang persaudaraan, kesetiaan, serta hubungan manusia dengan alam, dan menjadi bagian penting dalam berbagai prosesi adat masyarakat Gayo, seperti penyambutan tamu penting dan upacara pernikahan.

Integrasi Nilai Islam dalam Tari Guel :
1. Pengaruh Islam dalam Fungsi dan Penyajian
Seiring masuknya Islam ke wilayah Gayo, terjadi perubahan signifikan pada fungsi dan penyajian tari Guel: Awalnya, tari Guel dipertunjukkan dalam konteks ritual adat yang bersifat sakral, dengan penari laki-laki sebagai syarat utama. Setelah Islam berkembang di Takengon, fungsi sakral dan ritual secara bertahap berkurang, sehingga tari Guel lebih sering dipertunjukkan dalam acara-acara hiburan, festival, dan penyambutan tamu, tanpa unsur ritual yang bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Penyesuaian Etika dan Busana
Nilai-nilai Islam tercermin dalam aspek etika dan busana penari: Busana tari Guel disesuaikan dengan norma Islam, yaitu menutup aurat sesuai ajaran agama. Penyesuaian ini dilakukan agar pertunjukan tetap sopan dan tidak melanggar syariat. Etika dalam gerakan dan syair tari juga diatur agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti menghindari gerakan atau ekspresi yang berlebihan atau tidak pantas.

3. Nilai Religius dalam Gerakan
Beberapa ragam gerak dalam tari Guel, seperti “salam semah”, mengandung makna religius: Gerakan ini diawali dengan sikap hormat dan doa, mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan dan nilai-nilai religius yang diajarkan dalam Islam, seperti rasa syukur, doa, dan ketaatan kepada Allah. Nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tari Guel juga menekankan pentingnya keimanan, ketaatan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Andi Putra)

*) Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Takengon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *